mati segan hidup tak bisa
itulah mungkin judul yang cocok menggambarkan gejolak jiwa yang saya alami.sedih, tertekan, kesal, kecewa, segala emosi dan perasaan itu bercampur aduk jadi satu. apa yang saya alami ini merupakan hasil dari pencarian dari makna hidup yang selama ini saya cari. semakin dalam saya mengetahui tentang apa yang terjadi sebenarnya di dunia, semakin urung panca indera saya untuk bergerak dan menjalankan fungsinya masing-masing. semakin dalam saya mengenal agama saya, semakin saya tahu bahwa masyarakat islam yang ada saat ini sudah rusak dari yang paling mendasar.
terbuka mata saya lebar-lebar bahwa kebenaran tidaklah ditentukan oleh mayoritas. kebenaran yang hakiki itu adalah jika kita hidup berpegang teguh dan berpedoman penuh terhadap al-quran dan assunah. ya, hanya kepada alquran dan assunah. seringkali kita terkecoh kepada sesuatu fatwa agama yang sebenarnya tidak bisa dikatakan benar, hanya karena pendapat itu keluar dari mulut seseorang yang menduduki posisi tinggi di sebuah organisasi bernafaskan islam. sering kita menganggap suatu pendapat itu benar hanya karena seseorang tersebut sering memakai sorban, sarung, baju koko, sering muncul di televisi, banyak dipuji-puji, dsb. dengan kata lain bisa diambil kesimpulan bahwa saat ini umat islam sangat dipengaruhi oleh simbol-simbol. tingkat penghormatan terhadap ulama tidak dilihat dari seberapa tinggi ilmunya, tapi dilihat dari seberapa terkenal dan sering dia muncul di televisi. tidak perlu sekolah, tidak perlu hafal al-quran, tidak perlu mengenal allah dan sosok rasulullah luar dalam. yang diperlukan hanya tampang yang ganteng, pintar berkomunikasi, dan ikut beberapa acara ceramah dan pengajian, disertai dalam setiap percakapan disisipi kata-kata insya allah dan alhamdulillah maka sudah okelah dia untuk bisa mengeluarkan berceramah dan mengeluarkan fatwa.
begitu banyak penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh umat islam pada masa sekarang ini. parahnya umat islam tidak ngeh, menghalalkan dan menganggap hal-hal yang haram ini adalah hal yang lazim, sehingga jika ada umat yang justru menghindari hal-hal yang diharamkan justru akan dianggap aneh dan tidak lazim oleh umat islam kebanyakan. penyakit yang diderita umat islam ini sudah sangat mengakar dan sudah luas lingkupnya. penyakit ini sudah menular kepada bahkan sendi-sendi paling kecil dari kehidupan berbangsa dan bernegara.
contohnya adalah riba, riba telah disepakati oleh ulama hukumnya haram. namun apa yang terjadi di negara kita ? sistem perbankan kebanyakan menganut riba dan sistem pembayaran gaji pegawai dan kemudahan dalam melakukan transfer uang ada pada bank yang memakai sistem riba, sehingga mau tidak mau kita harus memakai sistem ini untuk kelancaran urusan keuangan kita. maka benarlah hadits nabi
Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia akan terkena debunya.`(HR Abu Daud dan Ibnu Majah)
selain riba ada lagi yaitu zina dan khamr. dua hal itu telah menjadi hal yang lumrah dan lazim pada umat islam saat ini.
dan inilah hal yang saya alami sekarang ini, antara menjaga idealisme dan hidup dalam realita. benarlah sabda nabi SAW yang mengatakan bahwa pada akhir zaman seseorang mukmin yang menjaga agamanya akan seperti orang yang memegang bara api, yaitu dalam posisi yang dilematis. ingin melepaskannya namun harus terus menjaganya